Pandemi virus corona (Covid 19) dan langkah karantina yang diberlakukan secara ketat oleh banyak negara telah menyebabkan jatuhnya harga minyak pada awal bulan ini. West Texas Intermediate (WTI) berjangka pada perdagangan Mei pun tercatat turun di bawah nol untuk kali pertama. Namun, minyak mentah WTI ini akhirnya rebound pada Kamis kemarin.
Memperoleh harga hingga mencapai 20 persen, menurut data perdagangan. Perdagangan WTI mencapai 16,6 dolar Amerika Serikat (AS) per barel. Sedangkan Brent diperdagangkan pada 21,99 dolar AS per barel.
Dikutip dari laman Sputnik News, Jumat (24/2/2020), harga minyak pada pekan lalu telah mencapai titik terendah selama lebih dari 20 tahun terakhir. Anjloknya harga minyak ini dipicu adanya penurunan permintaan karena pandemi corona. Penurunan konsumsi itu tetap terjadi meskipun pada 12 April lalu, anggota OPEC + bersama beberapa negara pengekspor minyak lainnya telah sepakat untuk mengurangi output global di tahun 2020 dan 2022.
Menyikapi krisis yang sedang berlangsung sast ini, Presiden AS Donald Trump memerintahkan agar simpanan minyak di negara itu segera diisi. Ia juga mengarahkan pemerintahannya untuk menyusun rencana demi menyelamatkan industri perminyakan Amerika.